Prinsip pertama pratekan adalah menganggap beton pratekan berperilaku elastis. Runtutan logiknya adalah sebagai berikut:
1. Konsep zero tension stress criterion diperkenalkan, jadi tidak ada tarik dibeton. Beton hanya menerima tegangan 0 atau tekan saja.
2. Dengan konsep tidak ada tarik di beton maka beton tidak dapat dikatakan brittle.
3. Dengan beton dikatakan tidak brittle maka beton dikatakan memiliki sifat elastis.
------------------
Sampai disini tentunya membuat kita bertanya ..... So what with viewing concrete as an elastic material ???
Jwbnya: ada konsekuensi yg menarik. Dg menganggap elastis kita bisa menggunakan rumus My/I dalam menghitung tegangan di serat terluar balok pratekan.
Sebetulnya rumus lengkapnya ada beberapa komponen dalam menghitung tegangan:
1. Komponen M atau momen akibat beban.
2. Komponen P atau gaya aksial tendon.
3. Komponen M akibat P dan eksentritas posisinya terhadap garis netral.
Jadi tegangan di serat atas beton dan serat bawah beton dapat dihitung dengan cara menjumlahkan komponen 1, 2 dan 3 di atas.
Yg perlu diingat waktu menjumlahkan komponen tersebut jangan lupakan memasang TANDA yg tepat. Tanda yang salah menghasilkan perhitungan tegangan yg salah pula.
Tanda utk penampang beton pratekan di tengah terkena beban momen positif adalah:
1. Tanda utk M akibat beban: atas minus, bawah positif. Artinya di serat atas mengalami tekanan sedang serat bawah mengalmi tarikan.
2. Tanda utk P: minus. Artinya baik serat atas maupun bawah menerima tekanan.
3. Tanda utk momen P x e: atas positif, bawah negatif. Artinya di serat atas mengalami tarikan sedang serat bawah mengalami tekanan.
Utk memahami dg lebih baik bisa dilihat contoh dalam perkuliahan pratekan.